SEJARAH KERAJAAN BANGKALA
Sejarah Kerajaan Bangkala
Kerajaan Bangkala mulai berdiri sejak abad ke XV. Bermula dari Banrimanurung yang dianggap sebagai Raja Bangkala yang pertama.
Banri berarti Perempuan dan Manurung berasal dari kata Tumanurung atau orang yang turun dari langit. Dalam budaya Makassar. Orang yang tidak diketahui asal usulnya dianggap orang dari langit. Manurung disematkan kenamanya karena ke-Panrita-annya.
Maka diberi nama Banrimanurung, Perempuan yang datang dari langit. Manurung juga selalu dikaitkan dengan kata Nurung, artinya cahaya yang turun dari langit. Daerah kekuasaannya bermula di daerah Kapasa dan Ujung Moncong (sekarang masuk wilayah Desa Banrimanurung, Kec. Bangkala Barat, Jeneponto). I Banrimanurung tidak diketahui asal usulnya, hanya dirawat oleh seorang nenek yang pandai menenun. Salah satu sumber namanya Lontara Anpannassai Karaeng Ujung Moncong, mengatakan kalau Banrimanurung tidak diketahui asal usulnya. Hanya yang diketahui kalau dia mempunyai Bambu besar, kalau bahasa Makassar nya "Bolu Pattong". Makanya dia bergelar "Tu Lassuka ri Bulo Pattong". Karaeng Banrimanurung memiliki rupa yang sangat sempurna, kulit putih bersih, memiliki rambut yang panjang dan cerdas. Suaminya bernama Karaeng Paurang, dalam Lontara dikatakan bahwa dia merupakan anak dari Karaeng Loe ri Bantaeng, bersaudara dengan Karaeng Arungkeke. Mulanya, Karaeng Paurang menemani saudaranya dari Bantaeng ke Kalimporo' untuk menikahi putri Karaeng Kalimporo'. Menikahlah karaeng Arungkeke dengan putri Karaeng Kalimporo'. Karaeng Paurang pun diangkat menjadi anak angkat karaeng Kalimporo'. Disebutkan dalam Lontara', suatu ketika setelah pernikahan putri karaeng Kalimporo', karaeng Paurang dan Beberapa pasukannya sedang berburu Rusa, dalam bahasa Makassar nya disebut A'jonga atau Attado' Jonga dan membawa seekor Anjing pemburu. Ketika Kr. Paurang sudah memasuki wilayah Kapasa', dia melepaskan anjingnya untuk mencari jejak rusa. Ditengah perburuannya, anjingnya kehausan dan mencari sumber air, sampailah anjingnya disebuah sumur. Disumur itu sedang mandi seorang perempuan yang bernama Banrimanurung. Ketika anjing kr. Paurang mendekat, Banrimanurung melihat anjing itu tengah kehausan. Jadinya anjing itu diberi air dengan cara menyiramkan langsung ke Anjing yang tengah kehausan. Setelah minum, anjing itu kembali ke tuannya. Sesampainya di tuannya, kr. Paurang heran kenapa anjingnya basah kuyup. Kr. Paurang berasumsi sepertinya ada sumber mata air disekitar sini. Kr. Paurang pun mencari sumber air dan menemukan sebuah sumur yang masih basah disekitarnya. Sampainya di sukur tersebut, dia menemukan gulungan rambut hitam yang sangat panjang dan tergulung dikulit jeruk. Dalam lontara dibahasakan sebagai "Awang lemo". Kr. Paurang penasaran siapa yang memiliki rambut panjang ini. Kemudian mencarinya dan menemukan sebuah rumah yang dihuni seorang nenek yang sudah sangat tua. Datanglah kr. Paurang menanyakan, sama siapa sang nenek tinggal dirumah itu. Dan nenek tersebut menjawab kalau hanya dia sendiri yang tinggal dirumah itu. Tapi, kr. Paurang tidak percaya. Lalu kr. Paurang naik kerumah nenek tersebut dan menemukan alat tenun yang masih setengah jadi kainnya. Kemudian, kr. Paurang bertanya lagi. Siapa yang tengah menenun kain ini. Sang nenek jawab kalau dialah yang menenun. Karena kr. Paurang curiga, kr. Paurang meminta untuk membuktikan kalau tenun tersebut memang kepunyaan nenek tersebut. Maka sang nenek masuk kedalam alat tenun dan mempraktekkan cara menenun. Ternyata kr. Paurang tau kalau nenek ini bukanlah yang menenun kain itu. Secara tiba-tiba mata kr. Paurang tertuju pada sebuah potongan bambu besar yang bagian salah satu ujungnya ada rambut panjang berwarna hitam panjang, persis dengan rambut yang dia dapat di sekitar sumur. Kemudian kr. Paurang menarik rambut tersebut, dan keluarlah Banrimanurung yang tengah sembunyi didalam bambu. Kr. Paurang langsung jatuh cinta melihat Banrimanurung yang sangat cantik. Dan ingin menikahinya. Dan Banrimanurung pun mengiyakan untuk dinikahi. Kemudian, kr. Paurang pun kembali ke Kalimporo' dengan berniat membawa Banrimanurung ke Kalimporo' bersamanya. Tetapi, Banrimanurung menolak dan akan ke Kalimporo' sendiri tanpa diantar. Sesampainya kr. Paurang di Kalimporo', kr. Paurang mengatakan kepada ayah angkatnya kalau dia akan menikahi wanita cantik yang bernama Banrimanurung. Dipersiapkanlah segala-galanya. Banrimanurung pun tengah bersiap-siap untuk berangkat ke Kalimporo', dengan kesaktiannya dia membelah-belah bambu dan menjadikannya wujud manusia yang akan menandu Banrimanurung ke Kalimporo'. Tandu dalam bahasa Makassar disebut 'Bulekang'. Sesampainya Banrimanurung di Kalimporo' diadakan lah pesta besar-besaran selama 3 hari 3 malam. Atau dalam tradisi Patturioloang disebut " A'jaga tallu allo tallu bangngi"
Setelah itu, kr. Paurang dan Banrimanurung kembali ke Kapasa'. Ternyata kr. Kalimporo' juga menginginkan Banrimanurung sebagai istrinya. Ternyata kr. Paurang marah besar dan menyatakan perang dengan kr. Kalimporo'. Maka terjadilah peperangan antara kr. Kalimporo' dan kr. Paurang. Kr. Paurang dibanti oleh Banrimanurung menggunakan bambu yang dibelah-belah untuk menjadi pasukan perang. Pertempuran terjadi dan kr. Kalimporo' kalah.
Disinilah bermula kerajaan Bangkala. Didalam Lontara' disebut "nibetami Kalimporo', amminawangmi ri Ujung Moncong". Artinya Kalimporo' telah kalah dan menjadi taklukan Karaeng Ujung Moncong (nama awal kerajaan Bangkala). Banrimanurung melahirkan 2 orang anak. Satu laki-laki bernama "I Batara Langi' " dan satunya perempuan bernama " I Yampayabang" dilontara' lain disebut "I Yampayyang". Batara Langi' menikah dengan Putri Kojayya dan menghasilkan keturunan sebanyak 3 orang, 2 orang laki-laki bernama Massaguling dan Sawempalege dan 1 orang perempuan bernama Golla Taua. "I Yampayabang" menikah dengan kr. Mamampang. Melahirkan satu orang laki-laki bernama Palembanawa atau Pale'banawa. Palembanawa ini menikah dengan sepupunya bernama Golla Tauwa. Lahirlah 'Attenna Bangkala'. Di Lontara lain disebut "Latena Bangkala' " Atenna Bangkala Menikah dengan anak Karaeng Loe ri Marusu'. Dalam beberapa referensi disebut anak kr. Loe ri Marusu' bernama Tukkana kr. Ujung Moncong. Lahirlah anaknya bernama I Pasiri' Daeng Mangngasa. Kalau dalam Lontara' Anpannassai disebut I Pasinring. Gelarnya Karaeng La'bua Talibannanna. Kr. La'bua Talibannanna menikahi anak Sombaya ri Gowa ke X. I Manriwagau Dg. Bonto Kr. Lakiung Tunipallangga Ulaweng. Putrinya bernama I Kare Pate Dg. Mangammu' Kr. Bilittangngayya. Ibunya merupakan anak kr. Loe ri Marusu'.
Turunannyalah Kr. La'bua Talibannanna yang menjadi Raja Bangkala seterusnya
*Diolah dari berbagai sumber
Komentar
Posting Komentar